Budaya Lokal Gorontalo Perlu Dilestarikan

0
30
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara menggelar Dialog Budaya Daerah Gorontalo 2018.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara menggelar Dialog Budaya Daerah Gorontalo 2018.

CINTASULUT.COM,- Gorontalo memiliki banyak sekali ragam budaya lokal yang perlu diungkap, diangkat, dan dilestarikan. Hal ini terungkap dalam Dialog Budaya Daerah Gorontalo Tahun 2018 yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Utara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo di Grand Zanur Hotel, Kota Gorontalo, Selasa (24/7/2018) lalu.
Dialog menampilkan narasumber Hj. Yamin Husain (budayawan), Hugen Suleman SPd. MAP (Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bone Bolango). H. Achril Y. Babyonggo, ST, M.Ec.Dev (Camat Suwawa, Bone Bolango), dan Irwan Hajarati SSos (Kepala Kantor Museum Gorontalo).

Pemateri dalam DIalog Budaya Daerah Gorontalo yang digelar BPNB Sulut dan Disdikbud Kabupaten Bone Bolango.
Pemateri dalam DIalog Budaya Daerah Gorontalo yang digelar BPNB Sulut dan Disdikbud Kabupaten Bone Bolango.

Dalam pemaparannya, budayawan Hj. Yamin Husain yang menyajikan tentang tradisi lisan Tahuli dan Tahuda mengungkapkan, tradisi lisan tahuli dan tahuda masih memasyarakat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo, namun sudah jarang kita dengar.
“Keduanya merupakan ragam informal ritual yang hanya disampaikan atau dibutuhkan dalam upacara-upacara adat dengan pengecualian apabila hal itu berkaitan dengan kegiatan pengkajian dan penelitian,” paparnya.
Padahal menurut Yamin, Tahuli dan Tahuda mengandung pengajaran tentang bagaimana caranya bersikap dan berperilaku dalam menjalankan kehidupan ini.
Ditambahkannya bahwa pesan dalam setiap larik dan bait merupakan cincin sikap dan perilaku yang diinginkan dalam masyarakat dan diridhoi oleh Allah SWT, sikap dan perilaku yang patut dijauhi dan dihindari karena tidak hanya akan menjadi alasan pertentangan dan permusuhan tapi juga mendapat hukuman dari sang pencipta.
Yamin pun menyarankan agar dapat dilakukan kajian lebih mendalam serta spesifik tentang kemanfaatan Tahuli dan Tahuda dalam kehidupan masyarakat adat Gorontalo.
Senada dengan Yamin, Hugen Suleman yang membawakan materi berjudul ‘Strategi Budaya Lokal Dalam Membentuk Karakter Bangsa’ pun mengakui, tradisi budaya lokal Gorontalo sudah jarang didengar dan dipakai dalam kehidupan masyarakat. Padahal menurutnya, Gorontalo kaya akan obyek-obyek budaya. Mulai dari tradisi lisan, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, hingga olahraga tradisional.
“Contohnya Tahuli dan Tahuda, tinggal ada dalam tulisan,” keluh Hugen.
Tak hanya itu, sastra lisan Meeraji yang mengandung makna religius, sejarah riwayat para nabi yang diceritakan dalam bahasa Gorontalo pun sudah jarang terdengar.
“Saat Ini tradisi budaya lokal hanya dihadirkan pada pesta, bahkan ada juga yang tidak mau,” tuturnya.

Tari Dana-Dana, salah satu ragam budaya Gorontalo yang biasa ditampilkan dalam acara-acara. (Foto: www.kamerabudaya.com).
Tari Dana-Dana, salah satu ragam budaya Gorontalo yang biasa ditampilkan dalam acara-acara. (Foto: www.kamerabudaya.com).

Hugen khawatir, begitu hilang generasi ini, budaya lokal pun bakal hilang dari kehidupan masyarakat Gorontalo.
Prihatin dengan kondisi itu, Hugen pun menekankan agar kebudayaan-kebudayaan lokal perlu diingatkan lagi, diangkat lagi, dan dilestarikan karena mengandung makna sangat tinggi terhadap nilai-nilai keagamaan dan dapat membentuk karakter bangsa.
Alasannya, “Budaya Gorontalo hanya ada di Gorontalo, tidak ada di tempat lain,” katanya.
Untuk itu, Hugen merekomendasikan untuk membentuk suatu sanggar tentang sastra lisan.
“Kalau bisa juga dibentuk suatu kampung yang aktivitas sehari-harinya menggunakan tradisi budaya, ya kampung budaya atau kampung adat. Pakaiannya pakai pakaian adat gorontalo, komunikasi antar warga menggunakan bahasa Gorontalo, dan sebagainya,” harap Hugen.

Pemateri lain, Achril Y. Babyonggo juga merasa prihatin dengan kondisi budaya lokal yang makin terkikis. Padahal menurutnya, pembangunan karakter bangsa itu boleh diangkat, diciptakan, atau dimajukan lewat budaya lokal.
Karena itu Achril dalam pemaparannya juga meminta agar ada langkah-langkah yang diambil dalam pelestarian budaya lokal.
“Pemajuan kebudayaan itu jelas ada di UUD 1945 Pasal 32. Jadi tidak main-main. Sejak dari tahun 1945 para pendiri bangsa sudah memikirkan ini. Jadi, torang yang ada duduk samua di sini mo ungkap ulang (Jadi, kita semua yang duduk di sini ingin mengungkap kembali, red), bangkitkan ulang semangat para pendiri Negara untuk mengangkat budaya lokal menjadi kekayaan budaya nasional. Dan ini harus kita pelihara,” tutur Achril.
Irwan Hajarati yang menyajikan materi ‘Memaknai Budaya Dalam Mewujudkan Keharmonisan dan Kehidupan Berbangsa’ juga menyatakan, Gorontalo memiliki banyak sekali ragam budaya lokal.
“Keragaman budaya kita membawa manfaat bagi masyarakat Gorontalo,” tegasnya.
Karenanya, menurut Irwan, budaya lokal wajib kita lestarikan.
“Menjadi tugas kita bersama untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Kepala Kantor Museum Gorontalo itu.
Irwan pun mendukung untuk membentuk sanggar kebudayaan di Gorontalo.
“Nanti semua yang ditampilkan adalah tradisi etnis Gorontalo,” jelas Irwan di akhir pemaparan.* (fen)

==========
Tulisan lain:

LEAVE A REPLY