Cek Kosong Senilai 4 M Giring Hentje ke PN Manado

0
79
Para saksi saat diambil sumpah.
Para saksi saat diambil sumpah.

CINTASULUT.COM,- Terdakwa JRT alias Hentje(44), warga Kelurahan Singkil Dua Lingkungan I Kecamatan Singkil Manado, terpaksa harus merasakan kursi ‘pesakitan’ di Pengadilan Negeri (PN) Manado. Diduga, dirinya telah melakukan penggelapan/penipuan terhadap Eddy Angouw(korban) yang notabene adalah pamannya sendiri sekitar Rp4 miliar.
Sidang dipimpin majelis hakim yang diketuai Franklin Tamara cs, Selasa (15/5/2018) kemarin. Sidang dengan agenda Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mudeng Sumaila itu menghadirkan dua saksi.
GDalam persidangan para saksi yakni Rolex Zakawerus dan Takalamingan pada keterangannya mengatakan, pernah bekerja dengan terdakwa sejak tahun 2016 dan sekarang tidak lagi.
Masih oleh saksi, mengetahui jika dalam gudang menampung gagang/tangkai cengkih, dan tangkai cengkih digunakan untuk apa, tidak diketahui.
“Tidak tau gagang cengkih dipakai untuk apa. Memang baru kali ini bermasalah dengan terdakwa. Tugas kami hanya masukkan tangkai cengkeh dari gudang ke dalam mobil. Sekitar bulan Juni sampai Juli tahun 2017,” senada dikatakan kedua saksi, seraya menambahkan jika tidak mengetahui siapa yang jadi pemilik gudang sebenarnya.
Terdakwa yang didampingi Penasihat Hukumnya, Abner T, Hentje membenarkan keterangan para saksi.Sebagaimana dalam dakwaan JPU, kasus ini berawal sekitar bulan Juni dan Juli 2017 di gudang ringroad kelurahan Bumi Nyiur Kecamatan Wanea. Terdakwa yang adalah keponakan dari saksi korban Eddy Angouw (pemilik gudang, red), diberi modal oleh saksi korban.
Berdasarkan kepercayaan Paman kepada keponakan, terdakwa mengelola dan memegang kunci gudang tersebut.
Pada sekitar 15 Oktober 2015-24 Mei 2017, saksi korban meletakkan gagang cengkih dengan total 631.602 kilogram.
Sekitar bulan Mei, terdakwa kemudian menghubungi, meminta ijin meminjam gagang cengkih sebanyak 120.000 kg, dan saksi korban kemudian mengiyakan dan meminjamkan itu, sehingga ada sisa sebanyak 511.602 kilo.
Namun pada pertengahan Juli 2017, ketika korban mengecek gudang tersebut, didapatinya ada aktifitas pemindahan gagang cengkih yang akan dimuat ke mobil. Melihat hal itu, sontak saksi korban menyuruh untuk menghentikan hal itu.
Dan saat melihat ke dalam gudang , gagang cengkih sudah kelihatan berkurang. Ketika ditimbang kembali cengkih yang awalnya seberat 631.602 kg, sepengetahuan dipinjamkan pada terdakwa seberat 120.000 kg, sehingga harusnya masih tersisa 511.602 kg. Nyn, hasil timbangan akhir sisa gagang cengkih tinggal seberat 177.438, sehingga ada selisih yang hilang seberat 344.163 kilogram.
Mendapati gagang cengkih berkurang banyak, saksi korban kemudian menghubungi terdakwa menanyakan hal itu. Dan terdakwa mengakui jika telah mengambilnya tanpa sepengetahuan saksi korban.
Terdakwa kemudian membayar gagang cengkih tersebut dengan menggunakan cek senilai Rp4 miliar, cek BNI No : CA387XXX , tetapi setelah saksi korban akan mencairkan pada tanggal 12 Oktober 2017, ternyata cek yang diberikan terdakwa, kosong.
Merasa dikelabui, saksi korban lantas melaporkan perbuatan terdakwa untuk diproses hukum. Adapun kerugian sebesar Rp4.087.467.000.
Oleh JPU Sumaila, terdakwa dijerat dalam dakwaan Kesatu, pasal 372 KUHP, ke dua pasal 378 KUHPidana.* (jane)

==========

Tulisan lain:

SHARE

LEAVE A REPLY