Dugaan Kasus Korupsi Pemecah Ombak, Nama RPM dan VAP Kembali Disebut

0
62
Saksi Vecky Tewu saat memberikan keterangan di persidangan kasus dugaan korupsi Pemecah Ombak TA 2016 Likupang Minut.
Saksi Vecky Tewu saat memberikan keterangan di persidangan kasus dugaan korupsi Pemecah Ombak TA 2016 Likupang Minut, Selasa siang (3/4/2018).

CINTASULUT.COM,- Sidang kasus dugaan korupsi Pemecah Ombak Tahun 2016 di Desa Likupang Minahasa Utara (Minut) berbanderol Rp8,8 miliar lebih, kembali digelar di Pengadilan Negeri/Tipikor Manado, Selasa (3/4/2018). Masih dengan agenda pemeriksaan saksi, kedua nama yaitu RPM alias Rio dan VAP alias Vonny kembali disebut oleh saksi dalam ruang sidang, di hadapan Majelis Hakim Vincentius Banar sebagai Ketua Majelis Hakim, didampingi Hakim Anggota Arkanu dan Wenny Nanda.
Dikatakan saksi Vecky Tewu, sebagai pengawas lapangan yang ditunjuk secara lisan oleh Steven Koloay, Kadis PU Minut, saat turun ke lapangan ditemukannya bahwa jalannya proyek ini tidak dilaksanakan oleh terdakwa RM alias Robby selaku pelaksana pekerjaan, melainkan oleh saksi bernama Decky Lengkey.
“Saya pun bertanya kepada Decky Lengkey siapa yang menyuruh menjalankan proyek ini, ia menjawab pak Rio Mandagi,” jelas Tewu saat ditanya Penasehat Hukum (PH) Frangky Weku dan disambut teriakan I Yayat U Santi oleh salah satu pengunjung sidang.
Tewu menambahkan, selama enam kali melakukan pengawasan lapangan, ia bertemu dengan RPM sebanyak tiga kali.
“Dua kali ketemu di dalam lokasi, satu kali ketemu di lokasi penanaman pohon,” ujarnya.
Selain itu diungkapkan saksi, satu kali melihat Rio dan Decky Lengkey diskusi di salah satu rumah makan.
Pada keterangan lainnya di persidangan, Tewu mengungkapkan bahwa ia pernah bertemu dengan Bupati Minahasa Utara (Minut) Vonni Aneke Panambunan (VAP), di ruangan kerja bupati. Menurutnya, pertemuan tersebut untuk membahas keberangkatannya bersama terdakwa RMT alias Rosa, SHS alias Steven ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bersama terdakwa RMT alias Rosa, SHS alias Steven terkait masalah Geo Tekstil yang tidak digunakan dan kerugian Negara yang ditemukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Diketahui, perkara yang merugikan keuangan negara Rp8,8 miliar lebih ini, pihak JPU telah menghantar tiga terdakwa ke meja hijau. Selain terdakwa Rosa dan Stevenson, turut terjerat pula terdakwa RM alias Robby selaku kontraktor. Oleh JPU dalam dakwaan, ketiga terdakwa ini telah dijerat pidana. JPU menggunakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto (jo) Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI No 31 Tahun 1999, jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.* (jane)

==========

Tulisan lain:

LEAVE A REPLY