Fasilitas Untuk Disabilitas Belum Memadai, MJP dan Liando Desak Segera Bentuk Perda

0
6
Ferry Liando (kiri) dan Melky Jakhin Pangemanan/MJP (kanan)
Ferry Liando (kiri) dan Melky Jakhin Pangemanan/MJP (kanan)

CINTASULUT.COM,- Miris, para penyandang disabilitas harus menelan pil pahit. Walaupun memiliki kemampuan yang bisa diadu dengan mereka yang memiliki anggota tubuh yang normal, namun penyandang disabilitas ini belum ditopang dengan fasilitas yang memadai baik di bidang pendidikan maupun kesehatan. Padahal, sebagai warga negara, para penyandang disabilitas pun memiliki hak yang sama.
Melihat itu, Badan Pembentukan Peraturan Daerah (BAPEMPERDA) DPRD Sulut di bawah kepemimpinan Winsulangi Salindeho sebagai Ketua menggenjot agar Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas segera ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (PERDA).
Terbukti keseriusan BAPEMPERDA, untuk kesekian kalinya dilakukan pembahasan dengan menghadirkan para ahli.
Seperti dilakukan, Senin (25/3/2021) kemarin, BAPEMPERDA melaksanakan pembahasan dengan menghadirkan sejumlah kaum disabilitas, tenaga ahli dan mitra kerja terkait, di Ruang Paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Terpantau oleh media ini, sejumlah aspirasi disampaikan oleh kaum disabilitas seperti ketersediaan Sekolah Luar Biasa (SLB), penyebutan untuk kaum disabilitas yang kerap berubah padahal sudah diatur dalam Undang-Undang, dan masih banyak lagi termasuk pengadaan vaksin Covid-19 yang belum diperuntukkan bagi kaum disabilitas.
Tokoh publik dari kalangan akademisi, Ferry Liando, akademisi, saat diwawancarai sejumlah awak media usai rapat menyampaikan bahwa Randepeda tersebut mendesak untuk ditetapkan menjadi PERDA.
“Bagi kita merupakan kewajiban negara untuk melindungi setiap warga negara termasuk kaum disabilitas. Melindungi kelompok ini tak cukup jika hanya dipandang belas kasihan, tapi perlu tindakan-tindakan nyata agar mereka mendapatkan pelayanan dengan baik serta hak-hak yang setara dengan masyarakat pada umumnya,” ucap Liando yang juga seorang dosen ini.
Kalau perlu, menurut Liando, penyandang disabilitas didorong agar memiliki derajat yang istimewa.
Lanjut disampaikan Liando, Perda ini tak hanya produk politik tapi menjadi produk iman.
“Dalam UU pemilu sudah mengakomodasi kepentingannya kaum disabilitas. Mereka mendapat perlakuan yang sama. Surat suara ada jenis khusus untuk mereka, sehingga perlakuannya sama,” ujar Liando.
Pun disampaikan Liando, FGD Ranperda disabilitas DPRD, tim ahli, Pemprov, dan komunitas disabilitas yang dilaksanakan hari ini (kemarin, red) bertujuan untuk menggali dua informasi.
“Yaitu masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum disabilitas seperti akses pelayanan publik, tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Kemudian informasi yang diharapkan dari perangkat daerah adalah hambatan-hambat pemerintah dalam melayani kaum disabilitas,” jelas Liando.
Ditanya apakah fasilitas yang disiapkan pemerintah untuk kaum disabilitas sudah memadai dijawab tegas oleh Liando, “Belum optimal makanya perlu buat Perda,” tutup dia.
Hal senada disampaikan anggota BAPEMPERDA Melky Jakhin Pangemanan (MJP) ketika menjawab pertanyaan wartawan terkait fasilitas yang disiapkan pemerintah untuk penyandang disabilitas bahwa hingga saat ini fasilitas tersebut belum memadai. Bahkan dengan tegas disampaikan yang akrab disapa MJP ini mengatakan bahwa fasilitas yang disediakan pemerintah untuk para penyandang disabilitas belum “ramah”.
“Kita bisa saksikan di instansi pemerintah saja penyandang disabilitas belum diberi hak mereka ya, oleh karena itu kami berharap di ranperda ini bisa menyediakan fasilitas hak kepada penyandang disabilitas. Mereka punya hak yang sama dengan siapapun warga negara Indonesia,” tandas Pangemanan.* (jane)

SHARE

LEAVE A REPLY