JPU Tuntut Owner Big Fish 1 Tahun Penjara

0
6

Terdakwa Kasus Pengrusakan2CINTASULUT.COM,- Pada sidang yang digelar Selasa (5/12/2017) di Pengadilan Negeri (PN) Manado, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mudeng Sumaila akhirnya memberikan tuntutan satu tahun penjara atas kasus pengrusakan dinding pagar rumah/pangkalan Paris 88 milik saksi korban Suryono Wijoyo, yang dilakukan terdakwa Ir PMS alias Pieter (50), warga kelurahan Wawonasa Lingkungan III Kecamatan Singkil Kota Manado.
“Menyatakan Piter terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pengrusakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 404 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, menjatuhkan pidana 1 tahun penjara,” ujar Jaksa Mudeng di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Alfi Usup.
Adapun hal memberatkan, terdakwa telah merugikan orang lain. Sementara hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan, beritikad baik mengganti kerugian dari pihak saksi korban dengan kesanggupan hanya sebesar Rp 50 Juta, namun tidak terlaksana karena permintaan saksi korban sebesar Rp150 juta.
Diketahui kasus ini berawal pada tahun 2015 sampai 2016 bertempat di Jalan Piere Tendean No 105. Sebagaimana salah satu unsur dalam tuntutan JPU, unsur menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai lagi atau menghilangkan barang sesuatu, bahwa fakta-fakta yang terungkap di persidangan dan keterangan para saksi, pengakuan terdakwa, serta hasil pemeriksaan setempat.
Menurut JPU, Jika bangunan rumah, pangkalan Paris 88 milik saksi korban yang mengalami kerusakan, yaitu di samping tembok rumah pangkalan Paris 88 terjadi penurunan tanah dan tehel-tehelnya menjadi rusak. Di bagian dinding rumah terjadi retakan-retakan, pada dinding bagian dapur retak-retak, dinding kamar mandi dan WC retak dan tidak dapat digunakan lagi. Di ruang kamar tidur ada kerusakan di bagian atap akibat jatuhnya material-material dari pembuatan Hotel D Coral dan beberapa bagian rumah rusak. Sehingga rumah yang biasanya ditempati ini tidak lagi dijadikan tempat untuk menginap karena kerusakan-kerusakan tersebut.
Pada persidangan, saat pendapat ahli beberapa waktu lalu, Dr johny Lembong SH MH, yakni ahli Hukum Pidana, dosen Fakultas Hukum Unsrat, bahwa jika yang dimaksudkan pelaku adalah orang yang melakukan tindak pidana itu sendiri, bahwa dalam Pasal 406 ayat (1) KUHP kalau dilihat dari 4 unsur tersebut niat jahat harus ada dan yang dimaksud pelaku adalah orang yang benar-benar melakukan, dan dilihat dari sengaja, orang itu yang melakukan sendiri, kalau ketidak-sengajaan adalah Kulpa yaitu yang disadari dan yang tidak disadari.
Dikatakan ahli juga, unsur sengaja diatur dalam Pasal 200 KUHP, sedangkan kelalaian Pasal 201 KUHP. Menyangkut Pasal 201 KUHP dihubungkan dengan fisik bangunan yang dibangun di atas tanah sendiri dengan syarat-syarat. Membangun kalau ada kerusakan bangunan di samping dan milik orang lain biasanya diselesaikan secara perdata. Kelalaian-kelalaian ringan bukan merupakan tindak pidana (Anglosexon).* (jane)

==========
Tulisan lain:

LEAVE A REPLY