Julius Jems Tuuk, Mutiara Dari Tanah Totabuan

0
365
Julius Jems Tuuk, Mutiara Dari Tanah Totabuan
Julius Jems Tuuk, Mutiara Dari Tanah Totabuan

CINTASULUT.COM,- Sosok yang satu ini dikenal lantang menyuarakan hak rakyat. Bahkan, dia akan berontak tatkala melihat apa yang seharusnya menjadi hak rakyat digenggam erat para oknum penguasa. Dialah Ir. Julius Jems Tuuk atau akrab disapa Jems.
Lelaki berdarah Tionghoa-Minahasa ini memang tak bisa dipisahkan dari daerah Bogani. Lahir, tumbuh dan berkarya di Tanah Totabuan, membuat seorang Jems tertarik untuk ikut memikirkan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga Bolaang Mongondouw Raya. Ia pun mengambil sikap untuk terjun di dunia politik, dengan tujuan apa yang menjadi hak rakyat akan tetap menjadi milik rakyat. Apapun akan dia lawan bila di depan mata rakyat tertindas dengan ketidakadilan.

Julius Jems Tuuk (kedua dari kiri) bersama beberapa naggota DPRD Sulut berdialog dengan warga Desa Bolangat terkait sengketa lahan masyarakat
Julius Jems Tuuk (kedua dari kiri) bersama beberapa naggota DPRD Sulut berdialog dengan warga Desa Bolangat terkait sengketa lahan masyarakat

Salah satu contoh ketika ia melihat jeritan masyarakat Bolangitang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang merintih karena tanah mereka dipaksa penguasa-penguasa untuk ditanami kelapa sawit, dan akhirnya memporakporandakan lahan persawahan di sana yang notabene terkenal dengan lumbung padi. Jems Tuuk, Anggota DPRD Sulut ini kerap menerjang ‘baja’ walaupun kadang dirinya harus terdiam melihat ketidakadilan yang dialami warga Bolangitang. Tapi dari mulutnya tak pernah mengatakan, “Perjuangan Belum Selesai”.

Julius Jems Tuuk saat meninjau lokasi sengketa lahan di Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolmong.
Julius Jems Tuuk saat meninjau lokasi sengketa lahan di Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolmong.

Sosok yang satu ini pun terus memperjuangkan bantuan pemerintah yang berupa bibit, ternak, dan pupuk yang seharusnya diterima masyarakat agar tepat sasaran, baik itu bantuan dari pusat maupun provinsi.
Bahkan, beberapa wilayah yang sekian lama seakan terisolasi karena belum ada penerangan akhirnya bisa bernafas lega dengan adanya aliran listrik, dan itu hasil perjuangan Anggota Dewan yang dikenal dengan gaya vokal namun santai. Sebut saja beberapa wilayah tersebut adalah Desa Kolingangaan dan Desa Komus dan sekitarnya di Kecamatan Passi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, juga sejumlah daerah lain.

Julius Jems Tuuk saat menyerap aspirasi warga di Kecamatan Passi Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).
Julius Jems Tuuk saat menyerap aspirasi warga di Kecamatan Passi Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Menariknya lagi sejak 2015 lalu, Legislator murah senyum ini telah menyandang predikat sebagai Legislator Terbaik dan Tervocal versi FORUM WARTAWAN DPRD SULUT dan menerima FORWARD AWARD. Tahun 2017 alumnus Fakultas Perikanan Unsrat ini kembali meraih penghargaan FORWARD AWARD sebagai Legislator Terbaik. Predikat yang sama kembali disandangnya di tahun 2018 sebagai bentuk akumulasi kinerja selama 4 tahun menjadi Anggota DPRD Sulut. Hetrik dicapai Ir.Julius Jems Tuuk sebagai Legislator Terbaik oleh FORWARD AWARD. Semangat perjuangannya memang tak pernah kendor sedikitpun dari waktu ke waktu.

Legislator DPRD Sulut, Ir. Julius Jems Tuuk (kanan) menerima penghargaan FORWARD AWARD 2017 yang diserahkan oleh pengurus FORWARD Sulut.
Legislator DPRD Sulut, Ir. Julius Jems Tuuk (kanan) menerima penghargaan FORWARD AWARD 2017 yang diserahkan oleh pengurus FORWARD Sulut.

Bukan hanya itu, namanya pun bersih dari dugaan Anggota Dewan nyambi proyek yang sempat heboh waktu lalu. Patut diacungkan jempol, Legislator dari Daerah Pemilihan Bolaang Mongondow Raya ini, di parlemen tidak hanya mementingkan kepentingan dan kesejahteraan dapilnya melainkan lebih dari itu, tak segan dirinya menyerukan dan berusaha agar aspirasi masyarakat di Sulut wajib diperhatikan pemerintah. Hal yang jarang dilakukan anggota lain.
Contohnya, saat dirinya terdaftar sebagai anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sulut, aspirasi masyarakat kepulauan pun jadi perhatian Legislator ini. Lantang di rapat Banggar Tuuk meminta agar kesejahteraan masyarakat kepulauan harus jadi prioritas, mengingat Kepulauan Sangihe adalah berandanya Provinsi Sulut dan begitu dekat dengan negara tetangga yaitu Filipina.
Sikap tulus seorang Jems dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat bukan baru muncul setelah ia menancapkan kaki di Gedung Cengkih. Jauh sebelum terpilih sebagai wakil rakyat, pria kelahiran Imandi ini sudah aktif terlibat dalam berbagai aksi dalam upaya memperjuangkan hak-hak rakyat. Di antaranya ketika ia menjadi pemimpin dalam aksi unjuk rasa Forum Komunikasi Peduli Masyarakat Dumoga (FKPMD) pada 29 Mei 2000 yang melibatkan 7.000 warga Dumoga. Ketika itu Jems tampil sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) dan membawakan orasi berapi-api di depan gedung DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow. Dalam unjuk rasa yang menjadi aksi demo paling menggegerkan di wilayah Bolaang Mongondow, bahkan di wilayah Sulawesi Utara itu, Jems bersama warga Dumoga melontarkan lima tuntutan yang kemudian dikenal sebagai Lima Tuntutan Rakyat (PANCATURA).

Julius Jems Tuuk berorasi saat demo masyarakat Dumoga di Gedung DPRD Bolmong, Mei 2000. (Sumber: Tabloid Totabuan, No. 9, Tahun I, 24 Juli - 6 Agustus 2000).
Julius Jems Tuuk berorasi saat demo masyarakat Dumoga di Gedung DPRD Bolmong, Mei 2000. (Sumber: Tabloid Totabuan, No. 9, Tahun I, 24 Juli – 6 Agustus 2000).

Tak cukup sampai di situ saja. Selama 4 tahun, hingga tahun 2004, ia memperjuangkan agenda PANCATURA hingga ke tingkat pusat. Dengan jiwa ksatria dan semangat pantang menyerah, Jems berani meminta langsung kepada Menteri Kehutanan untuk segera menutup perusahaan HPH PT Sandi Jaya Satria yang dinilai menjadi penyebab menurunnya debit air Bendung Katinggolan. Lalu bersama perwakilan masyarakat pemilik lahan (Doloduo, Kinomaligan, Wangga Baru, Toraut, dan Tambun); perwakilan masyarakat Werdhi Agung, Kembang Mertha, dan Mopugat, ia pun harus berjuang selama 2 tahun (2000-2002) dengan bertemu Menteri Tenaga Kerja dan Koperasi dan Menteri Hukum dan HAM untuk mendapatkan ganti rugi atas tanah mereka yang dijadikan lahan transmigran.

Berbagai kliping koran tentang sepak terjang Julius Jems Tuuk dalam memperjuangkan Pancatura demi kepentingan masyarakat Bolmong
Berbagai kliping koran tentang sepak terjang Julius Jems Tuuk dalam memperjuangkan Pancatura demi kepentingan masyarakat Bolmong

Sampai saat ini Ir. Julius Jems Tuuk pun masih terus berjuang demi rakyat. Dan itu pula yang diungkapkan warga Bolmong, salah satunya Nani Riswani Topayu. Menurutnya, Ir. Julius Jems Tuuk adalah figur yang luar biasa, berbuat untuk masyarakat Bolmong tanpa melihat warna. Bahkan, dirinya berkeyakinan, bila masyarakat bolmong satukan tekad, bukan mustahil Ir.Julius Jems Tuuk akan memegang palu di parlemen tersebut.
“Insting politik saya, beliau bisa memegang palu ketua bila kita masyarakat bolmong mengaminkannya. Banggalah kita sebagai warga BMR bila mampu mewujudkannya. Siapa lagi yang tepat selain dia,” bunyi serangkaian komentarnya di salah satu group WhatsApp.
Rentetan perjuangan Jems Tuuk untuk masyarakat BMR telah terpatri di sanubari, untuk itu saat dirinya sempat mengambil keputusan untuk tidak maju lagi di Pemilihan Legislatif 2019, tak sedikit seruan dan harapan masyarakat BMR agar Putra Totabuan ini tetap maju di kancah politik demi memperjuangkan hak rakyat. Bahkan, airmata masyarakat pun tak mampu dibendung. Rasa tak tega terlihat jelas dari raut wajah Jems Tuuk, pertentangan bathin yang dialaminya, di mana dirinya harus memilih antara tanggungjawab terhadap keluarga dan pengabdian terhadap masyarakat BMR. Hingga akhirnya ia pun membatalkan niatnya itu demi pengabdian kepada masyarakat.* (jane)

==========
Tulisan lain:

LEAVE A REPLY