Kasus Dugaan Korupsi RSJ.Ratumbuysang, Saksi Mengaku Perubahan Data Berdasarkan Metode Visual

Awalnya mengaku laporan rekapan dibuat sendiri, didesak JPU akhirnya saksi mengaku dibuat oleh perusahaan dan tidak tahu nama perusahaan tersebut

0
100
Saksi Ir.Michael Suatan saat memberikan keterangan dalam persidangan kasus dugaan korupsi pembangunan gedung RSJ Ratumbuysang TA 2015.
Saksi Ir.Michael Suatan saat memberikan keterangan dalam persidangan kasus dugaan korupsi pembangunan gedung RSJ Ratumbuysang TA 2015.

CINTASULUT.COM,- Kasus dugaan korupsi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ratumbuysang Tahun Anggaran (TA) 2015, dengan pagu anggaran Rp18 miliar dan menyebabkan kerugian negara sekira Rp3,3 miliar terus disidangkan di Pengadilan Tipikor Manado.
Senin (16/4/2018) siang tadi, sidang kembali digelar dan menghadirkan saksi ahli struktur.
Di hadapan Majelis Hakim Vincentius Banar, SH. MH cs, saksi Ir.Michael Suatan mengatakan, dalam membuat perubahan data menggunakan metode visual.
“Secara pandangan mata 1-2 jam,” tutur saksi dalam persidangan menjawab pertanyaan JPU Bobby Ruswin.
Pertanyaan JPU pun berlanjut, setelah visual apa yang dilakukan? Dikatakan saksi, ambil data dan kembali menghitung struktur, itu dilakukannya di rumah.
Lanjut saksi, secara visual saksi melihat gedung tersebut perlu diperbaiki.
“Kolom, balok, simpul. Dan kolom tidak simetris,” ucap saksi.
Saksi juga mengaku, dalam melakukan perubahan data dilakukannya sendiri.
“Menghitung sendiri dengan cara manual dan tertulis. Hasil 7 lantai dan setelah dihitung, dipangkas 1 lantai jadi 6 lantai,” ungkap saksi.
Masih oleh saksi, bangunan harus diperkuat lagi, diukur dengan perhitungan. Hasil perhitungan disampaikan kepada pak David (terdakwa).
“Pak Decky yang telpon, kemudian saya bertemu dengan Pak David di Hotel Formosa,” aku saksi.
Saksi mengatakan, laporan yang diserahkan kepada terdakwa David berupa satu lembar kertas dengan tulisan tangan.
“Yang diserahkan kepada Pak David hanya 1 lembar, rekapan saja,” ungkap dia.
Ada yang menarik di persidangan itu. Bila sebelumnya saksi mengatakan bahwa laporan ditulisnya sendiri dan diserahkan kepada David (terdakwa) berupa satu lembar rekapan, saat pihak PH terdakwa David menunjukan bukti berupa surat, dan membenarkan bila tandatangan di atas lembaran tersebut adalah miliknya (saksi), muncul pertanyaan baru dari pihak JPU yaitu, apakah laporan rekapan tersebut adalah benar dibuat oleh saksi atau orang lain.
“Apa ini dibuat saudara saksi atau siapa?,” tanya JPU.
Terlihat bingung dan terbata-bata, saksi pun menjawab bila surat tersebut dibuat oleh pihak perusahaan.
“Perusahaan yang buat tapi tidak tau perusahaan apa,” kata saksi, seraya menambahkan bila surat tersebut ditanda tangani di rumahnya.
Sidang pun ditunda tanggal 24 April 2018 .
Patut diketahui, dalam perkara ini, selain DL, pihak Kejati Sulut telah menetapkan dan melakukan penahanan terhadap JP alias Jermina selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan VJ selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).
Akibat perbuatan tersebut, ketiga tersangka terancam pidana berdasarkan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, juncto Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) Ke-1 Kitab UU Hukum Pidana.* (jane)

==========

Tulisan lain:

LEAVE A REPLY