Kecam Kasus Bayi Debora, Karinda Warning RS di Sulut

0
38
James Karinda,SH.MH., Ketua Komisi IV bidang Kesra di DPRD Sulut.
James Karinda,SH.MH., Ketua Komisi IV bidang Kesra di DPRD Sulut.

CINTASULUT.COM,- Kasus meninggalnya bayi Tiara Debora Simanjorang (4 bulan) harus dijadikan bahan evaluasi mengenai pelayanan di Rumah Sakit (RS). Berita memiriskan ini pun jadi perhatian khusus di 34 provinsi di Republik Indonesia. Hal ini pun bukan hanya jadi perhatian tapi dikecam keras oleh Ketua Komisi IV bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di DPRD Sulut, James Karinda, SH. MH.
Menurutnya, jangan ada kasus serupa di Rumah Sakit yang ada di Daerah Nyiur Melambai ini.
“Jangan ada kasus debora-debora lain di Sulut. Bila itu terjadi, DPRD akan mengeluarkan rekomendasi agar rumah sakit itu di cabut ijinnya,” tegas Karinda kepada wartawan, Rabu (13/9/2017) di gedung kantor Sekretariat DPW Partai Demokrat Sulut.
Lanjut Karinda yang juga pernah menjadi Anggota Dewan di DPRD Kota Manado ini, masyarakat jangan segan ataupun takut bila ada RS yang tidak mau memberikan pelayanan kesehatan, apalagi dengan alasan sangat memalukan yaitu uang muka/uang jaminan.
“Pihak rumah sakit tidak bisa menuntut DP kepada keluarga pasien yang membutuhkan perawatan. Bila itu terjadi, pihak pasien jangan segan untuk melapor,” tegas Ketua Komisi IV ini.
Dirinyapun berkeyakinan bila kasus yang menimpa bayi Debora bukan tidak mungkin terjadi juga di Sulut.
“Saya yakin banyak kasus seperti bayi Debora di sini tapi ditutupi. Untuk itu saya minta kerjasama dari teman-teman wartawan untuk memberitakan” tukas Karinda.
Diketahui, bayi Tiara Debora meninggal dunia di RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, pada Minggu (3/9/2017) lalu setelah disebut tidak menerima penanganan medis memadai karena uang muka perawatan yang diberikan orangtuanya tidak mencukupi.
Awalnya, staf medis memberikan pertolongan pertama saat bayi berusia empat bulan itu dibawa ke rumah sakit tersebut pada Minggu dini hari.
Dokter kemudian memberi tahu bahwa Debora harus dimasukkan ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Namun, keluarga harus membayar uang muka berjumlah belasan juta rupiah terlebih dahulu. Akhirnya, Debora tak bisa dirawat di ruang PICU rumah sakit tersebut karena uang muka tidak mencukupi.* (jane)

==========
Tulisan lain:

LEAVE A REPLY