“Menakjubkan” Tarik Uang Tunai Miliaran di BRI Tanpa Tanda Terima?

Kasus dugaan korupsi Pemecah Ombak di Likupang Minut

0
89
Saksi Kristy Jannty Kansil - karyawan Bank BRI saat memberikan keterangan di persidangan kasus dugaan korupsi Pemecah Ombak TA 2016 di Likupang Minut, Selasa (3/4/2018).
Saksi Kristy Jannty Kansil – karyawan Bank BRI saat memberikan keterangan di persidangan kasus dugaan korupsi Pemecah Ombak TA 2016 di Likupang Minut, Selasa (3/4/2018).

CINTASULUT.COM,- Kasus dugaaan korupsi Pemecah Ombak TA 2016 di Desa Likupang Minut yang merugikan negara hingga Rp8,8 miliar lebih terus dikupas dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Manado, oleh Majelis Hakim Vincentius Banar cs.
Pada pemeriksaan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sulut, Selasa (3/4/2018) siang, saksi Kristy Jannty Kansil yang adalah karyawan Bank BRI mengaku, saat penarikan uang secara tunai sebanyak dua kali, masing-masing Rp1 miliar tidak disertakan tanda terima dari teller.
Menerima keterangan tersebut, Hakim Vincentius Banar sebagai Ketua Majelis Hakim pun mempertanyakan terkait SOP dari Bank BRI.
“Apakah SOP yang diberlakukan seperti itu? tidak ada tanda terima saat menerima uang,” tanya Hakim Banar yang diiyakan saksi.
Dalam sidang pun saksi mengatakan, bila diri dua kali mengantarkan uang kepada terdakwa Rosa yang saat itu menjabat sebagai Kepala BPBD Minut.
“Transaksi dua miliar, pertama di bandara, kedua di Kantor BPBD Minut,” tutur saksi di sidang.
Sementara, terdakwa Rosa membantah bila penyerahan uang oleh saksi bukan hanya dua kali tapi enam kali.
“Semua pencairan menurut perintah Ibu Bupati. Penarikan selama 6 kali bank yang membawa ke kantor BPBD,” ujar dia, sembari menyebutkan nominal dan tanggal penyerahan uang.
Adanya perbedaan tersebut, Penasehat Hukum (PH) terdakwa Rosa meminta, agar saksi menyertakan rekaman cctv sesuai tanggal transaksi.
“PH minta rekaman cctv untuk mengetahui apakah terdakwa rosa ada saat pengantaran uang. rekaman yang kami butuhkan tanggal 28/6/2016 sekitar pukul 10.00-14.00 wita dengan nominal Rp6,745,468,182 RTGS, 8/8/1016 pukul 08.00-15.00 wita nilai Rp1 miliar, 10/8/2016 pukul 10.00 wita sampai selesai jumlah Rp1miliar,15/8/2016 pukul 13.00 wita sampai 17.00 wita sejumlah Rp981juta, 31/8 /2018 pukul 15.00 wita sampai 17.00 wita dengan jumlah Rp1,5 miliar dan 2/9/2016 jam 15.00 wita hingga 17.00 wita nilai Rp1,263 miliar,” tegas PH kepada saksi.
Hakim pun menegaskan,bila kedua teller Bank BRI yang mencairkan uang tersebut turut dihadirkan pada sidang selanjutnya.
“Teller yang mencairkan dana dihadirkan sebagai saksi,” tutur Hakim Banar.
Pada sidang hari ini menghadirkan tiga saksi. Namun, saksi ketiga tidak bisa dihadirkan yaitu Ardhanny Bagus Pinuntun, Pimpinaan Cabang BRI dengan alasan pindah ke luar daerah.
“Sudah pindah ke Jakarta, tapi akan tetap dihadirkan,” ungkap JPU ketika diwawancarai awak media saat sidang di skors beberapa waktu.
Diketahui, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sulut Bobby Ruswin mendakwa tiga terdakwa, masing masing dalam berkas tersendiri, Perempuan dr RMT alias Rosa (54) yang menjabat kala itu, Kepala BPBD Kabupaten Minahasa Utara tahun 2016 sekarang menjabat Kepala Dinas Kesehatan Minut, Direktur Manguni Makasiouw Minahasa, RM alias Robby (47) sebagai pelaksana proyek, dan SHS alias Steven (44) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kepala seksi rekonstruksi BPBD di Kabupaten Minut.
Dalam dakwaan JPU, ketiga terdakwa ini telah dijerat pidana JPU menggunakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto (jo) Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI No 31 Tahun 1999, jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.* (jane)

==========

Tulisan lain:

LEAVE A REPLY