Sidang Kasus Dugaan Korupsi RSJ Ratumbuysang, Saksi Ahli Akui Ada Kekeliruan Data

0
68
Para Majelis Hakim saat melakukan sidang lokasi di RSJ Ratumbuysang Manado, Senin (7/5/2018).
Para Majelis Hakim saat melakukan sidang lokasi di RSJ Ratumbuysang Manado, Senin (7/5/2018).

CINTASULUT.COM,- Sidang kasus dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ratumbuysang Manado, tahun anggaran 2015 dengan pagu anggaran Rp18 miliar yang merugikan negara Rp3,3 miliar kembali digelar di Pengadilan Tipikor Manado, Senin (7/5/2018). Kali Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulut menghadirkan saksi ahli.
Dalam persidangan tersebut, saksi ahli Oscar Hans Kaseke akhirnya mengakui bila dirinya sudah melakukan kekeliruan soal data. Dimana, data CCO2 dan nilai pekerjaan dihitung nol padahal ada 200 juta. Bukan hanya itu, Penasehat Hukum (PH) Jeverson Petonengan juga mempertanyakan angka 900 juta yang tidak dicantumkan saksi ahli dalam nilai pekerjaan.
Atas kekeliruan tersebut, para PH menolak kerugian yang ditulis oleh saksi ahli sekira Rp2,3 miliar.
Awal persidangan, JPU menanyakan apakah selama melakukan tugas, saksi Oscar menemukan penyimpangan atas proyek pembangunan RSJ Ratumbuysang, dan diiyakan saksi Oscar.
“Sudah pasti ada, penyimpangan terutama pada konstruksi diperkuat setiap lantai itu berbeda,” tutur saksi.
Saksi juga mengatakan, dari lantai satu hingga tujuh terdapat kekurangan pengerjaan. “Penebalan balok ada 250 titik. Tebal umumnya hampir sama cuman panjangnya beda,” ungkap saksi Oscar.
Saksi pun mengaku, dalam melakukan perhitungan dilakukan sendiri. “Saya melakukannya sendiri dengan menghitung dan mengoreksi satu per satu,” ujar saksi.

PH Jeverson saat menjukka.n data kepada saksi ahli Oscar di hadapan Majelis Hakim
PH Jeverson saat menjukka.n data kepada saksi ahli Oscar di hadapan Majelis Hakim

Di hadapan Majelis Hakim Vincentius Banar cs, saksi berujar bila dirinya hanya melakukan pemeriksaan untuk lima lantai dari proyek tujuh lantai tersebut. Selain itu, cara menghitung/mengukur, saksi hanya menggunakan alat ukur (meteran) dan alat tulis.
Dalam melakukan tugasnya, sesuai keterangan saksi, dirinya menghabiskan waktu selama tiga minggu kerja dan tiga hari untuk tinjau lokasi secara langsung.
Hal ini dibantah langsung oleh PH Jeverson Petonengan, dengan menunjukkan surat tugas yang mencantumkan tanggal 30 Oktober 2017, sementara dalam berita acara, saksi diperiksa sebagai ahli tanggal 6 November 2017.
“Itu berarti saksi tidak bekerja selama tiga minggu, seperti keterangan saksi,” ucap Jeverson dan disambut pengakuan dari saksi ahli Oscar, bila dirinya melakukan pekerjaan sebelum adanya surat tugas.
Oleh JPU sesuai agenda menghadirkan tiga saksi ahli, namun yang hadir dalam persidangan kali ini untuk memberikan keterangan hanya dua saksi sedangkan satu saksi ditunda hingga tanggal 16 Mei mendatang.
Sebelumnya siang tadi, Majelis Hakim yaitu Vincentius Banar, SH. MH sebagai Ketua bersama dua Majelis Hakim lainnya yaitu, Arkanu SH Mhum dan AdHoc Wenny Nanda, SH, telah melakukan sidang lokasi di RSJ Ratumbuysang. Ini dilakukan, menurut Hakim Banar, untuk memastikan objek perkara dan sebagai dasar untuk meminta keterangan dari saksi ahli.
Sekedar diketahui, dalam perkara ini, selain DL, pihak Kejati Sulut telah menetapkan dan melakukan penahanan terhadap JP alias Jermina selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dan VJ selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).
Akibat perbuatan tersebut, ketiga tersangka terancam pidana berdasarkan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 junto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, junto Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto pasal 55 ayat (1) Ke-1 Kitab UU Hukum Pidana.* (jane)

==========

Tulisan lain:

LEAVE A REPLY