Sidang Kasus Pemecah Ombak Minut, Hadirkan saksi Mr.”Tidak Tahu”

0
262
Saksi Kepala BPBD Minut, Forsman FT Dandel (kiri).
Saksi Kepala BPBD Minut, Forsman FT Dandel (kiri).

CINTASULUT.COM,- Sidang kasus dugaan korupsi proyek pemecah ombak di Desa Likupang Dua Kabupaten Minahasa Utara (Minut) dengan kerugian negara berbandrol sekitar Rp8,8 miliar terus bergulir di Pengadilan Tipikor Manado, Selasa (17/4/2018).
Menariknya, saksi yang dihadirkan di sidang kali ini, walaupun mantan staf ahli Pemkab Minut dan kemudian dilantik sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minut Januari 2017 lalu, Forsman FT Dandel terus menjawab tidak tahu saat disuguhkan sejumlah pertanyaan oleh Majelis Hakim, Penasehat Hukum (PH) dan Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Seperti saat Ketua Majelis Hakim, Vincentius Banar, didampingi Hakim Arkanu dan Hakim Wenny Nanda menanyakan, apakah saksi tahu terkait proyek pemecah ombak di Likupang Minut yang saat ini berproses di Pengadilan Tipikor Manado, dijawab singkat oleh saksi bahwa dirinya tidak tahu menahu terkait hal itu.
“Tidak tahu perkara tersebut, karena saat saya diangkat pekerjaannya sudah selesai,” ujar Dandel.
Lanjut pula dengan pertanyaan oleh JPU Bobby Ruswin cs, apakah saksi tahu kalau proyek tersebut masuk daftar pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dengan lugasnya saksi menjawab,
“Saya tidak tahu proyek, termasuk masuk pemeriksaan BPK,” ucapnya di hadapan Majelis Hakim.
Padahal, menurut keterangan saksi dalam persidangan, dirinya pernah menyurat ke BNPB tanggal 4 Agustus 2017 perihal permohonan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK yakni TGR senilai Rp3,5 miliar lebih.
Saksi pula mengaku bila atas inisiatif sendiri mengirim surat ke BNPB, dan ataa ijin Bupati Minut (VAP) saksi ke BNPB.
Pertanyaan pun terus berkembang dan semakin menarik, saat PH dari terdakwa Rosa menanyakan, siapa yang membayar kerugian negara atas proyek pemecah ombak di Minut? dijawab singkat oleh saksi, “Tidak tahu,” kata saksi.
PH pun melontarkan kesimpulan, bila saksi diangkat sebagai Kepala BPBD Minut Definitif di atas ketidaktahuan beliau (saksi).
Dalam sidang itu juga saksi mengatakan bila telah dilakukan serah terima jabatan antara dirinya dan Kepala BPBD lama yang kini jadi terdakwa perkara Pemecah Ombak di Minut, RM alias Rosa.
“Yang diterima hanya aset, pengerjaan tidak. Proyek pemecah ombak tidak masuk,” ungkap saksi.
Patut diketahui, dalam perkara ini, sebagai terdakwa yaitu RMT alias Rosa (54) yang kala itu menjabat Kepala BPBD Kabupaten Minahasa Utara (sekarang menjabat Kepala Dinas Kesehatan Minut); Direktur Manguni Makasiouw Minahasa, RM alias Robby (47) sebagai pelaksana proyek; dan SHS alias Steven (44) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kepala seksi rekonstruksi BPBD di Kabupaten Minut. Ketiganya
telah diseret hingga ke meja hijau oleh JPU, dengan menggunakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto (jo) Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI No 31 Tahun 1999, jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.* (jane)

==========

Tulisan lain:

LEAVE A REPLY