Sidang Pemeriksaan Terdakwa, LT Mengaku Tahu Sejumlah Botol Minuman Kasegaran Beredar Tanpa Pita Cukai

0
45
Terdakwa LT alias Like (Owner PD Sehat Sentosa.
Terdakwa LT alias Like (Owner PD Sehat Sentosa.

CINTASULUT.COM,- Kasus yang akhirnya menjerat owner atau pemilik PD. Sehat Sentosa LT alias Like, terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Manado. Kali ini agenda pemeriksaan terdakwa.
Menariknya, saat sidang berlangsung, Selasa (10/7/2018) siang, terdakwa tak menepis bila dirinya tahu ada sejumlah botol minuman beralkohol merk Kasegaran yang keluar dari pabrik tanpa direkatkan Pita Cukai. Adapun alasan terdakwa nekat melakukan hal itu, karena menurutnya pita cukai tersebut mahal harganya.
Di samping itu pula, masih oleh terdakwa, penjualan minuman tanpa pita cukai bisa mendapatkan keuntungan walaupun sedikit.
“Harga per dos minuman kasegaran dengan pita cukai dijual 600 ribu-an, sedangkan tanpa pita cukai per dos 500 ribu-an. Ada untung biar sadiki (Ada untung walaupun sedikit, red),” tutur terdakwa di hadapan Majelis Hakim, Immanuel Barru, SH., cs. dalam persidangan.
Saat sidang berlangsung, terdakwa juga mengaku telah menjual sebagian minuman kasegaran tanpa Pita Cukai sejak tahun 2017.
“Tahun 2009 masih pakai pita cukai semua, karena harganya masih murah,” aku terdakwa.
Keterangan terdakwa di atas berbeda dengan keterangan saksi pada sidang mendengarkan keterangan saksi, Senin (21/5/2018) lalu.
Pada keterangan saksi sebelumnya, Hendrik (pemilik Toko Bintang Harapan) tahu adanya minuman kasegaran ini tanpa pita cukai sejak tahun 2013 lalu.
“Tahun 2013 sudah tahu, 2014 dan sererusnya pernah melihat botol miras kasegaran tidak ditempeli pita cukai,” tutur Hendrik menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Immanuel Barru, SH.MH, cs. dalam persidangan.
Bahkan lanjut Hendrik, dirinya pernah menanyakan hal itu kepada terdakwa.
Kembali pada persidangan pemeriksaan terdakwa, dirinya tidak ingat secara pasti, berapa jumlah botol minuman kasegaran yang sudah beredar dan tidak direkatkan Pita Cukai.
“Dalam dos ada setengah-setengah yang berpita dan tidak berpita,” ungkap terdakwa.
Namun dalam persidangan, terdakwa di hadapan Majelis Hakim mengakui kesalahan tidak merekatkan pita cukai di sejumlah botol minuman kasegaran yang telah beredar, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Untuk diketahui, sejak pertama kasus ini disidangkan, terdakwa LT tidak mau didampingi Penasehat Hukum (PH), walaupun sudah ditawarkan berulang kali oleh Majelis Hakim.
Adapun ringkasan kronologi dalam dakwaan Jaksa Penutut Umum (JPU) Hentje Latuperissa, SH dan Mudeng Sumaila, SH, sekira tanggal 5 Oktober 2017 , tanggal 7 November 2017 sekitar pukul 13.00 Wita dan pada hari sabtu 25 November 2017 sekitar pukul 15.30 Wita, bertempat di pabrik/gudang PD. Sehat Sentosa, terdakwa telah mengeluarkan barang kena cukai dari pabrik tanpa mengindahkan ketentuan sebagaimana di maksud dalam pasal 25 ayat (1) dengan maksud mengelakkan pembayaran cukai dengan cara yakni, mengeluarkan minuman jenis kasegaran ini berjumlah 132 karton masing-masing dos isi 12 botol 620 ml, yang tidak dilekati dengan pita cukai dari dalam gudang, dan oleh supir diantar ke Toko Bintang Harapan milik saksi Hendrik Paringkoan di Jalan Sisingamangaraja Calaca Manado.
Bukan hanya itu, terdakwa saat mengeluarkan minuman jenis kasegaran tersebut, tanpa terlebih dahulu memberitahukan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara. Dan, hal tersebut tidak seluruhnya dilaporkan, produksinya pun melebihi dari yang dilaporkan.
Adapun alasan terdakwa tidak merekatkan pita cukai di sebagian minuman tersebut agar harga tidak mahal, laku di pasaran, tidak kalah bersaing. Selain itu, terdakwa lakukan dengan kesadaran sendiri dengan strategi mengimbangi harga pasar. Oleh sebab itu terdakwa menyiasatinya dengan menjual BKC berupa MMEA merk Kasegaran produksi PD. Sehat Sentosa sebagian tidak melekatkan pita cukai. Dimana, setiap karton adalah harga yang sama dengan yang dilekati pita cukai.
Perbuatan terdakwa telah menimbulkan kerugian negara atas pungutan cukai sebesar Rp. 32.408.640,
Atas tindakan tersebut, terdakwa diancam pidana dalam pasal 54 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.39 Tahun 2007 tentang Cukai.* (jane)

==========
Tulisan lain:

LEAVE A REPLY