Tiga Terdakwa Kasus Pembunuhan Kepsek SMA Advent Klabat Divonis 12 Tahun Bui

0
219
Majelis Hakim PN Manado mengganjar 12 tahun penjara kepada tiga terdakwa kasus penculikan berujung maut terhadap kepala sekolah (Kepsek) SMA Advent Klabat, ES alias Erson.
Majelis Hakim PN Manado mengganjar 12 tahun penjara kepada tiga terdakwa kasus penculikan berujung maut terhadap kepala sekolah (Kepsek) SMA Advent Klabat, ES alias Erson.

CINTASULUT.COM,- Akhirnya, palu pengadilan untuk tiga terdakwa kasus penculikan berujung maut terhadap kepala sekolah (Kepsek) SMA Advent Klabat, ES alias Erson, diketuk Majelis Hakim Donald Malubaya, Djulita Massora, dan Besty Matuankotta dalam sidang Kamis (29/3/2018) di Pengadilan Negeri Manado.
Oleh Majelis Hakim, ketiga terdakwa yaitu JT alias Jek, JP alias Jil dan NP alias Opo, dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.
Ini juga seperti tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Edwin Tumundo dalam sidang pekan lalu.
Ketiga terdakwa pun tertunduk lemas untuk beberapa menit saat mendengar putusan hakim.
Pekan lalu, oleh JPU menyatakan bahwa ketiga terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan kesatu pasal 328 KUHPidana jo pasal 55 ayat ke-1 KUHPidana.
Diberitakan sebelumnya juga, persidangan perkara ini sempat memanas ketika terdakwa menolak hasil rekonstruksi tim Manguni Polda Sulut yang dimasukkan dalam dakwaan JPU. Beberapa kali, terdakwa sempat membangun alibi di persidangan dengan mengatakan kalau hasil rekonstruksi adalah cerita rekayasa mereka karena sudah tak tahan dengan tindak kekerasan yang dialami.
Namun, Majelis Hakim dan JPU tidak mudah untuk dibodohi para terdakwa. Sehingga, beberapa pertanyaan yang dilontarkan langsung membuat para terdakwa kebingungan.
Diketahui pula, perbuatan melawan hukum ketiga terdakwa itu terjadi pada  bulan Oktober 2015. Bermula, ketika korban Esron dilaporkan hilang oleh pihak keluarganya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak kepolisian lantas melakukan pemeriksaan, dan akhirnya berhasil menetapkan ketiganya sebagai tersangka dengan menggelar proses rekonstruksi atau reka ulang kejadian.
Dari hasil rekonstruksi tersimpulkan, kalau korban ternyata bukan hanya diculik melainkan telah dianiaya hingga meninggal dunia, kemudian jasadnya ditenggelamkan di perairan Inobonto.
Hasil rekonstruksi juga mengungkapkan bahwa terdakwa Jek sebelumnya telah menjemput terdakwa Jil dan terdakwa Opo, kemudian menggunakan mobil yang disewanya mengarah ke Malalayang untuk mencegat mobil yang dikendarai korban Erson.
Begitu tiba di daerah Tugu Boboca, saat itu korban langsung disuruh pindah ke mobil yang disewa terdakwa Jek. Sementara, mobil korban dibiarkan begitu saja terparkir di pinggir jalan. Sedangkan, saksi Lisa Papuntungan yang turut bersama-sama dengan korban malah tidak diijinkan ikut oleh terdakwa Jek.
Tak hanya itu, hasil rekonstruksi juga berhasil mengungkap kalau selama perjalanan Manado-Inobonto, terdakwa Jek telah memukuli korban berkali-kali. Bahkan, setiba di TKP (Pantai Desa Inobonto), korban kembali dipukuli hingga terjatuh, selanjutnya terdakwa Jek menghujani kepala korban dengan batu sebanyak dua kali.
Setelah memperkirakan korban tewas, ketiga terdakwa kemudian mengubur korban di pinggiran pantai. Selang dua jam, korban yang terkubur kemudian digali lagi dan dipindahkan ke perahu fiber bermotor 15 PK. Dengan perahu tersebut, para terdakwa lalu membawa jasad korban dan membuangnya di tengah laut. Lokasi dibuangnya korban sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan perahu.* (jane)

==========

Tulisan lain:

LEAVE A REPLY