Rudy Mokoginta Buka Dialog Bersama Rencana Ratifikasi Konvensi Minamata

0
60
Gubernur Sulut diwakili Asisten II Rudy Mokoginta menghadiri Dialog Publik terkait Ratifikasi Konvensi Minamata, di Ruang CJ. Rantung Kantor Gubernur, Senin (7/8/2017).
Gubernur Sulut diwakili Asisten II Rudy Mokoginta menghadiri Dialog Publik terkait Ratifikasi Konvensi Minamata, di Ruang CJ. Rantung Kantor Gubernur, Senin (7/8/2017).

CINTASULUT.COM,- Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey yang diwakili Asisten II, Rudy Mokoginta,Β  membuka dialog publik terkait rencana Ratifikasi Konvensi Minamata tentang Merkuri. Dialog publik bersama Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK ), Tim Komisi VII DPR RI yang diketuai Bara Hasibuan, Institusi PendukungΒ  Teknis AGC ( Artisanal Gold Council ), dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulut, Marly Gumalag itu digelar pada Senin (07/08/2017) KemarinΒ  di ruang CJ Rantung Kantor Gubernur.
Dalam sambutannya yang dibacakan Ruddy Mokoginta, Gubernur mengatakan merkuri telah menjadi perhatian global sejak pencemaran oleh perusahaan Chisso Minamata Factory ( CMF ) yang membuang limbah metal mercuri ke Teluk Minamata Jepang sekitar tahun 1956-1968 sehingga mengakibatkan permasalahan kesehatan pada penduduk di sekitar Teluk Minamata,
β€œTerkait dengan itu maka pemerintah dan masyarakat Sulut yang juga memiliki potensi tambang dan kegiatan pertambangan, termasuk pertambangan emas rakyat, diajak untuk berdialog dan memberikan masukan yang konstruktif terhadap pematangan Ratifikasi Konvensi Minamata,” ujarnya.
Oleh karena itu, Gubernur berharap kiranya kegiatan ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan masukan yang bermanfaat demi keberhasilan Ratifikasi Konvensi Minamata, untuk meminimalisir potensj pencemaran lingkungan hidup dan gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh merkuri,
Sementara itu, anggota Komisi VIi DPR RI Bara Hasibuan mengatakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih atas sambutan dari pemerintah provinsi untuk pelaksanaan kegiatan dimaksud.
“Ini bersifat dialog yang nantinya akan dibahas dan mencari solusi bagaimana baiknya dalam mengimbangi Mercury termasuk dampaknya Minamata pada kesehatan manusia terlebih untuk kulit,” terangnya.
Dan melalui pemaparannya, perwakilan dari Kementerian LHK, Tuti Mintarsih mengatakan mengapa harus ada Konvensi Minamata? Karena Merkury ini berbentuk sebuah partikel racun yang berpindah tempat melalui udara, juga banyak digunakan sehari-hari terutama pada lampu pijar, termometer (alat kesehatan), kosmetik (namun telah dilarang oleh badan POM).
Dikatakan Tuti, ada tiga macam merkury diantaranya, elemental (biasa dalam kosmetik,), anorganik, dan organik, juga mempunyai dampak bagi kesehatan. Prosesnya bisa bertahun-tahun dengan adanya gangguan saraf bagi anak kecil,
β€œEmisi merkuri tertinggi itu di Indonesia terdapat pada pertambangan juga terjadi di berbagai badan dunia. PBB juga telah melakukan suatu pemberitahuan untuk memperingatkan tentang dampak dari Mercury,” ujar Tuti.
Adapun dari pihak Pemerintah Kanada akan memberi bantuan alat pengelola emas tanpa merkuri,
Diketahui, kegiatan ini dihadiri DirekturΒ  Pengelolaan B3 KLHK Yun Inseni, Direktur Pemulihan Kerusakan Lahan Akses Terbuka KLHK Sulistyowati, Kepala Dinas ESDM B.A Tinungki, Pejabat dari Kabupaten /Kota, Akademisi, dan para Mahasiswa beberapa perguruan tinggi.* (hum)

==========
Tulisan lain:

LEAVE A REPLY